Mengapa Harus Nuklir?

“Atomic power is not the means by which man will for the first time emancipate himself economically…. This is expensive power, not cheap power as the public has been led to believe.” – CG Suits, Vice-President General Electric, December 1950

Apakah kesamaan antara tragedi Chernobyl dan Hiroshima-Nagasaki? Keduanya sama-sama menggunakan teknologi nuklir dan menewaskan manusia. Bedanya, tragedi Chernobyl merupakan kecelakaan nuklir yang paling parah dalam sejarah, sementara tragedi Hiroshima-Nagasaki adalah contoh penggunaan bom atom atau senjata nuklir terburuk sepanjang sejarah peradaban umat manusia.

ALASAN utama mengapa menolak teknologi nuklir adalah bahaya radiasinya, sampah nuklir yang dihasilkan, potensi kecelakaan reaktor (lihat boks Tragedi Nuklir Paling Buruk) serta ancaman keamanan. Hal inilah yang terus diperjuangkan oleh semua gerakan antinuklir di dunia.

Namun, ketika dengung isu pemanasan global mulai terdengar, para pendukung nuklir mulai menggunakan alasan ini untuk kembali menghidupkan era nuklir. Mereka mengklaim bahwa teknologi nuklir adalah teknologi “ramah lingkungan” yangsama sekalitidak mengeluarkan emisi gas rumah kaca, contohnya CO2.

Ketentuan mengenai upaya untuk mengurangi pemanasan global telah diatur di dalam Protokol Kyoto (tahun 1997), suatu protokol yang mengikat negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar rata-rata 5,2 persen dari tingkat emisinya di tahun 1990. Negara maju yang telah meratifikasi protokol tersebut akan terikat oleh kewajiban untuk mengurangi emisi di dalam negerinya.

Para pendukung nuklir, yang tentunya sebagian besar dari negara maju, lantas menggunakan kesempatan ini untuk menghidupkan kembali pembangkit-pembangkit bertenaga nuklir. Mereka mengklaim bahwa teknologi nuklirlah satu-satunya teknologi yang mampu menyediakan tenaga listrik skala besar yang “ramah lingkungan”. Bahkan, Nuclear Energy Institute (NEI) di Amerika Serikat memprediksikan bahwa dengan mempertahankan pembangkit listrik tenaganuklir yang ada saat ini dapat menghindarkan emisi CO2 sebesar 59 juta metrik ton CO2 hingga tahun 2020.

Jika dilihat sekilas, angka tersebut memang sepertinya menarik. Namun, mari kita lihat faktanya!

Benarkah nuklir tidak mengeluarkan emisi CO2

Salah! Pada proses pembangkitannya pembangkit listrik tenaga nuklir memang tidak mengeluarkanemisi CO2, namun bagaimana dengan proses penambangan bahan bakar nuklir? Studi menunjukkan bahwa nuklir secara tidak langsung menghasilkan emisi CO2 melalui proses penambangan uranium, transportasi bahan bakar, dan pembangunan pembangkit listriknya.

Emisi CO2, sangat jelas nuklir tidak dapat digunakan bagi negara-negara peratifikasi Protokol Kyoto. Sejak COP 6 lanjutan di Bonn, tahun 2001, telah disepakati untuk tidak memasukkan nuklir sebagai salah satu upaya pengurangan emisi, baik dalam upaya domestik maupun melalui mekanisme, seperti Clean Development Mechanism (CDM), Emission Trading, maupun mekanisme Joint Implementation.

Teknologi terjangkau

Ada pendapat yang menyatakan bahwa untuk mengurangi hampir 60 juta emisi CO2 selama 20 tahun, maka nuklir adalah pilihan yang paling tepat. Lagi-lagi pernyataan yang salah!

Untuk mengurangi emisi sebanyak 60 juta metrik ton CO2 dengan menggunakan teknologi nuklir diperlukan biaya sebesar dua kali lipat dari investasi yang harus dikeluarkan pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Tabel berikut menggambarkan investasi yangharus dikeluarkan per satu ton pengurangan emisi CO2.

Dari tabel di atas, jelas terlihat bahwa nuklir merupakan teknologi nomor dua termahaluntuk mengurangiemisi CO2. Justru usaha paling murah yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penghematan energi,selain mendapatkan keuntungan dari turunnya biaya energi, emisi CO2 pun dapat berkurang.

Mengaplikasikan teknologi

Teknologi nuklir adalah teknologi yang membutuhkan sumber daya manusia terlatih yang berkemampuan tinggi. Apakah Indonesia siap? Dari sisi teknologi, Indonesia bisa dikatakan siap untuk menerapkan teknologi ini, namun kemungkinan terjadinya human error masih sangat tinggi, terutama akibat budaya “teledor” yang sudah kronis serta rendahnya tingkat kedisiplinan. Bahkan Jepang, negara yang sumber daya manusianya sangat terlatih dan mempunyai disiplin tinggi serta melek teknologi, masih harus menghadapi kecelakaan reaktor nuklir akibat kesalahan manusia!

Terlebih lagi dengan kondisi Indonesia yang tidak aman sangat berisiko untuk memiliki pembangkit tenaga nuklir. Peristiwa tragedi 11 September dan bom Bali yang telah menewaskan ratusan bahkan ribuan orang mengingatkan kita bahwa peristiwa sabotase, pembajakan, dan pemboman adalah mungkin. Bagaimana jadinya jika ada teroris yang melancarkan aksi bom bunuh dirinya di lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir?

Lalu bagaimana dengan sampah nuklirnya? Di Amerika Serikat saat ini diperkirakan ada 45.000 ton sampah nuklir dari 103 reaktor nuklir yang akan tetap bersifat radioaktif selama lebih dari 200 ribu tahun lamanya. Memang, ada teknologi yang dapat “mendaur ulang” sampah nuklir ini. Namun, hal ini pun membutuhkan waktu.

Berdasarkan tulisan Sdr Henri Firman Winarto (Kompas, 2 Juni 2003), Amerika Serikat setidaknya membutuhkan waktu 60 tahun untuk mendaur ulang 110 ribu ton sampah nuklirnya menjadi energi (tambahan 70 ribu dari sampah yang dihasilkan sampai tahun 2015).

Lalu, di antara jeda waktu itu apa yang harus diperbuat? Selama ini negara-negara maju menyimpan sampah tersebut pada suatu fasilitas penyimpan sampah nuklir atau bahkan mengapalkannya ke negara berkembang. Hal ini tentu semakin menambah panjang rantai potensi kecelakaan nuklir. Satu hal yang harus diingat, walaupun merupakan sampah, limbah tersebut masih bersifat radioaktif. Bagaimana jadinya jika sampah tersebut jatuh ke tangan orang yang tidak berkepentingan, seperti teroris/ pemberontak dan memodifikasinya menjadi bom atom?

Selain itu, Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara.

Di sekitar lokasi pertemuan lempeng inilah akan terjadi akumulasi energi tabrakan sampai suatu titik di mana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Coba bayangkan, apa jadinya jika pembangunan PLTN di semenanjung Muria dilaksanakan, lalu terjadi bencana gempa bumi 7,4 skala Richter seperti yang terjadi di Bengkulu tahun 2000 lalu.

Ironisnya, di beberapa negara maju, justru teknologi ini mulai ditinggalkan. Inggris bahkan secara tegas telah mengumumkan kebijakan Nuclear Phase Out hingga tahun 2024 dan menggantinya dengan tenaga angin. Sementara Jerman, sejak tahun 1990-an, telah berkomitmen untuk tidak lagi membangun pembangkit nuklir baru dan menutup pembangkit lama yang sudah tidak beroperasi. Komitmen yang sama juga berkembang di negara-negara Eropa lainnya seperti Swedia dan Prancis.

Sumber energi

Diversifikasi energi mutlak harus segera dilaksanakan di Indonesia. Terlebih lagi, energi fosil (minyak bumi) akan segera habis. Diperkirakan dalam satu dekade ke depan Indonesia harus mengimpor minyak. Dengan asumsi harga per barrel minyak adalah sebesar 30 dollar AS maka pada tahun 2020, Indonesia harus mengeluarkan biaya impor sebesar 13,2 miliar dollar AS. Jika pada tahun ini subsidi BBM sebesar Rp. 14,6 triliun, dengan asumsi 1 dollar AS = Rp. 9000, maka biaya impor BBM pada tahun 2020 diperkirakan akan sebesar delapan kali lipat subsidi BBM saat ini.

Lalu bagaimana? Direktorat Jendral Listrik dan Pemanfaatan Energi baru-baru ini meluncurkan kebijakan energi hijau. Dalam kebijakan ini, pemerintah menetapkan target lebih kurang lima persen energi terbarukan pada national energy mix tahun 2010.

Mengapa energi terbarukan? Energi terbarukan bukanlah hal baru bagi Indonesia. Sejak ratusan tahun yang lalu, bangsa kita sudah menggunakan tenaga angin, air, dan biomassa untuk menghasilkan energi. Namun, ironisnya, ketika Indonesia mengenal energi fosil, energi terbarukan seperti dilupakan. Padahal, Indonesia mempunyai potensi energi terbarukan yang sangat besar. Tabel berikut memberikan informasi mengenai potensi energi terbarukan di Indonesia.

Apa saja keuntungan yang akan diperoleh dalam mengembangkan energi terbarukan? Dari sisi keberlanjutan, energi terbarukan adalah energi yang tidak akan pernah habis, lain halnya dengan energi fosil. Kecuali geothermal dan tenaga surya, energi terbarukan merupakan sumber energi murah (lihat tabel 2) karena dapat kita peroleh secara gratis dari alam. Selain itu sumber energi ini relatif bersih karena tidak menghasilkan emisi, seperti halnya bahan bakar fosil.

Diperkirakan, jika Indonesia menerapkan kebijakan lima persen energi terbarukan pada national energy mix di tahun 2010, dan jika diasumsikan energi terbarukan tersebut menggantikan pembangkit listrik tenaga batu bara, maka hal ini dapat mengurangi emisi CO2 . Suatu angka cukup fantastis bukan?

Jika masih terdapat banyak sumber energi lain yang terbukti jauh lebih aman, bersih, dan murah, lalu mengapa kita harus memaksakan teknologi nuklir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: