RESIKO PEMAJANAN FORMALDEHID SEBAGAI BAHAN PENGAWET TEKSTIL DI LINGKUNGAN KERJA

KETENTUAN – KETENTUAN DALAM PEMAKIAN BAHAN KIMIA
Penggunaan bahan kimia di lingkungan kerja sulit untuk dihindari. Walaupun pemakaiannya sudah dilarang atau dibatasi terutama apabila suatu zat kimia sangat toksik. Sebahagian besar bahaya pemakaian bahan kimia di lingkungan kerja diakibatkan terhirupnya bahan kimia tersebut dan masuk ke dalam tubuh manusia (inhasi) atau kontak kulit dengan zat- zat tersebut.
Informasi tentang bahan kimia dapat dilihat pada label kemasan bahan kimia dari produsen, ataupun dari Material Safety Data Sheet (MSDS). Dari informasi ini dapat diketahui spesifikasi dari bahan, hasil sampingan, tindakan safety yang dapat dilakukan serta limbah yang dihasilkan. Pemakai bahan kimia sudah seharusnya mengetahui informasi tentang bahan yang dipakai.
Keberadaan bahan kimia di lingkungan kerja diupayakan tidak melewati konsentrasi yang telah diatur. Di Indonesia perihal batas pemajanan bahan kimia di lingkungan kerja yang diperbolehkan tertuang dalam surat
formldehid Edaran Menaker No.SE 02/Menaker/1978 tanggaJ 22 Maret 1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB). Nilai Ambang Batas atau Threshold Limit Value adalah konsentrasi zat-zat kimia di udara yang menggambarkan suatu kondisi dimana hampir semua pekerja mungkin terpapar berulang kali, hari demi hari tanpa menimbulkan efek yang merugikan. NAB digunakan sebagai pedoman dalam pengendalian bahaya- bahaya kesehatan, dan tidak dapat digunakan sebagai batas antara konsentrasi yang aman dan tidak aman. Secara detail NAB terbagi atas 3 kategori ( Kusnoputranto, 1995), yaitu:
1. Threhold Limit Value-Time Weight Average (TLV -TWA) , yaitu konsentrasi rata-rata untuk 8 jam kerja normal dan 40 jam seminggu, dimana hampir seluruh pekerja mungkin terpapar berulang-ulang, hari demi hari tanpa timbulnya gangguan yang merugikan.
2. TL V-Short Term Exposure Limit (TL V-STEL), yaitu konsentrasi dimana pekerja dapat terpapar terus menerus untuk jangka pendek yaitu 15 menit, tanpa mendapat gangguan berupa iritasi, kerusakan jaringan yang menahun dan tidak dapat kembali, dan narkonis derajat tertentu dimana dapat meningkatkan kecelakaan atau mengurangi efisiensi pekerja.
3. TL V-Ceiling (TL V-C) yaitu konsentrasi yang tidak Doleh di lampaui setiap saat.
Nilai Ambang Batas Formaldehyde berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi No. SE-02/Men/1978 adalah 2 ppm (nilai KTD).
Nilai KTD berarti kadar tertinggi yang diperkenankan atau disebut ceiling. Threshold Limit Values (TL V) menurut ASHRAE. (American Society For Healting, Refrigerating and Air -Conditioning Enginer) untuk Indoor Air Quality adalah 0,1 ppm untuk 8 jam kerja (TWA) dan Ceilillg 0,2 ppm. OSHA, untuk TWA 3 ppm dan ceiling 5 ppm. NIOSH ,
untuk TWA 0,016 ppm dan ceiling 0,1 ppm. ACGIH, untuk Ceiling adalah 0,3 ppm. NAB Formaldehyde yang telah disebutkan diatas

PENGENDAUAN FORMALDEHID
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meminimalkan atau jika mungkin meniadakan efek yang merugikan dari suatu bahan kimia. Untuk mengetahui kemungkinan bahaya-bahaya di lingkungan kerja yang diperkirakan dapat menimbulkan efek kesehatan pada pekerja, ditempuh 4 langkah utama, yaitu Antisipasi, Recognisi, Evaluasi dan Pengendalian.
Antisipasi adalah suatu aktifitas untuk memperkirakan potensial hazard terhadap pekerja yang timbul ditempat kerja dengan suatu metoda tertentu yang strategis.
Dalam langkah antisipasi ini, dapat digunakan data-data sekunder dari industri, atau dengan study literatur.
Recognisi adalah aktifitas untuk mengindentifikasi dan mengukur berbagai potensial hazard yang ada di lingkungan kerja untuk memberikan masukan yang logis dengan metoda yang sistematis sehingga cocok untuk tindak lanjut.
Ada beberapa metoda yang dapat digunakan dalam recognisi, yang paling populer adalah “Walk Trough Survey”. Untuk survey ini sebaiknya dilakukan oleh seseorang yang telah berpengalaman, karena bahaya atau resiko yang terlewatkan untuk dikenali akan terlewatkan dalam evaluasi dan pengendalian.
Evaluasi lingkungan kerja, dilakukan untuk menguatkan apa yang ditemukan pada recognisi, menetapkan karakteristiknya dan memberi gambaran cakupan dan luas pemaparan. Ini diperlukan sebagai dasar untuk penetapan desain dan langkah pengendaliannya. Setelah didapatkan gambaran lengkap dan menyeluruh dari pemaparan, kemudian dibandingkan dengan standard kesehatan kerja yang berlaku, misalnya nilai ambang batas. Pada evaluasi ini juga harus dikemukakan kondisi-kondiir pemaparan yang meliputi lama pemaparan, berbagai kemungkinan jalan masuk ke dalam tubuh, jenis dan aktivitas fisik pekerja yang terganggu.
Pengendalian adalah upaya untuk mengurangi atau meniadakan pemaparan bahan berbahaya di lingkungan kerja. Untuk melakukan pengendalian, dapat dipilih tehnologi yang paling tepat dan mungkin dilaksanakan, atau tehnologi yang mudah, murah, dan bermanfaat. Pemilihan tehnologi, sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
™ Jenis bahaya yang potensial, sumber serta lokasinya.
™ Apakah sumber bahaya bisa dihilangkan secara menyeluruh.
™ Apakah mungkin dilakukan substansi bahan, alaI, atau cara kerja.
™ Apakah kontak dengan hazard dapat dikurangi.

Secara hierarkhi, pengendalian hazard yang diutamakan adalah pengendalian pada sumbernya, lalu lingkungan kerjanya, terakhir adalah langsung pada pekerjanya. Pengendalian formaldehid pada lingkungan kerja adalah cara yang dapat dipilih untuk mengurangi efek pemaparan. Cara yang dipilih adalah Sistem Ventilasi. Di dalam sistem ventilasi diperlukan 4 komponen besar yaitu:
1. Power supply
2. Sistem Udara Masuk.
3. Sistem Udara Keluar.
4. Enclosure.
Ada dua sistem dalam prinsip aliran udara ini yaitu : supply sistem dan exhaust sistem. Exhaust sistem prinsipnya adalah untuk memindahkan udara kontaminan dari ruang kerja, sedangkan supplay sistem adalah menambahkan udara ke dalam ruang kerja. Selain itu fungsi lain dari sistem supplay adalah untuk menggerakkan udara kearah yang diinginkan, juga digunakan untuk mengganti udara yang telah dipindahkan oleh exhaust sistem. Sehingga apabila ada exhaust sistem dengan sendirinya harus ada supplay sistem. Pengendalian untuk perseorangan (personal protection) dapat dilakukan dengan pemakaian sarung tangan, geogle (kaca mata) dan respirator. Khusus respirator, yang boleh digunakan adalah respirator yang telah direkomendasikan oleh NIOSH sesuai untuk bahan kimia terutama Formaldehyde (NIOSH, 1990).

DAFTAR PUSTAKA
Burgess, William A, 1981 Recognition of Health Hazard in industry. John Wiley & Sons, NewYork.
Kusnoputranto, Haryoto. 1995. Toksikologi Lingkungan, FKMUI dan Puslit Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. Jakarta.
Malaka, Tan, 1996. Biomonitoring Proceeding Simposium Pemamtauan Biologik dalam Proteksi Kesehatan Kerja. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Schorr WF, Keran, E. Plotka, E. 1974. Formaldehyde Allergy Archives of Dermatology vol 10, No.1.
Siege et al 1983. Formaldehyde Risk Assesment for Occupationally exposed Workers. Regulatory Toxicology and Pharmacology Vol. 3, No.4.
Siti Heryuni, 1995. Kadar Formaldehyde dl Udara Ruangan Toko Tektll Pasar dan Keluhan pada Mata Pelayan Toko. Majalah Hiperkes dan Kelamatan Kerja.
WHO, 1969. Environtmental Health Criteria 89. Joint Sponsorship of the United Nation Env. Program.ILO and WHO, Geneva.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: