Nuklir dalam Perkembangan Dunia

Ada keterkaitan langsung antara perkembangan negara di dunia, sistem keamanan internasional dengan ketersediaan energi. Energi merupakan elemen penting bagi pembangunan. Jika kebutuhan energi tidak terpenuhi, dapat menimbulkan kesengsaraan yang dapat memicu konflik serta mengganggu stabilitas kawasan dan global.

Dalam konteks ini, menjadi penting untuk mempertimbangkan ketimpangan ketersediaan energi global. Saat ini, masih terlihat jelas perbedaan mencolok antara ketersediaan energi di negara-negara maju dengan negara-negara sedang berkembang. Setiap tahun, Badan Energi Internasional (IEA) dari Organisasi Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD) merilis analisis tren perkembangan kebutuhan energi global.

Berdasarkan laporan Pandangan Kebutuhan Energi Dunia 2006, konsumsi energi dunia akan meningkat 53% pada 2030. Ada dua aspek penting yang menarik dibahas terkait kenyataan ini. Pertama, sekitar 70% kebutuhan energi berasal dari negara sedang berkembang. Kedua, IEA menganggap peningkatan penggunaan energi nuklir dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi global serta meningkatkan pasokan energi dan mengurangi emisi karbon.

Selama ini, penggunaan energi nuklir hanya terkonsentrasi di negara-negara industri maju. Namun dalam perkembangan terbaru, polanya sudah berubah. Dibuktikan, 16 dari 29 reaktor nuklir yang tengah dibangun sekarang ini berada di negara-negara sedang berkembang. Tidak lama lagi, negara-negara di kawasan Asia Pasifik akan ikut memilih mengembangkan program energi nuklir.

Salah satunya adalah Indonesia. Negara ini telah bertahun-tahun tertarik mengembangkan energi nuklir. Dan akhir-akhir ini, Indonesia mengumumkan akan membangun dua reaktor nuklir yang mampu menghasilkan energi sebesar 1.000 megawatt di Semenanjung Muria, Jawa Tengah. Namun, ketertarikan mengembangkan energi nuklir tidak hanya terbatas di kawasan Asia Pasifik, tapi juga di kawasan lain, termasuk di Amerika Selatan dan Afrika.

Keuntungan Energi Nuklir

Bagi sejumlah negara, energi nuklir merupakan cara untuk meningkatkan keamanan pasokan energi serta persediaan energi alternatif. Sejak terjadi gangguan pasokan minyak pada 1970, negara-negara seperti Prancis dan Jepang memutuskan mengembangkan energi nuklir. Sekarang, 78% pasokan energi listrik Prancis berasal dari energi nuklir, sedangkan di Jepang sebesar 30%.

Dengan begitu, negara-negara seperti Jepang dan Prancis memiliki sumber energi alternatif selain minyak. Selain itu, pasokan energi mereka sedikit terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dunia. Kemudian, alasan lainnya adalah kekhawatiran semakin besar emisi karbon yang menyebabkan perubahan iklim global. Jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil, uranium sangat sedikit menghasilkan emisi karbon.

Bahkan, energi nuklir dapat disamakan dengan emisi yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik tenaga angin dan air. Perhatian komunitas internasional semakin besar terhadap dampak emisi karbon dari bahan bakar fosil. Karena hal ini mengakibatkan polusi, perubahan iklim dan peningkatan temperatur global, kenaikan permukaan air laut, termasuk musim kering berkepanjangan dan pembentukan badai besar.

Keamanan dan Limbah Nuklir

Di samping keuntungan yang diberikan energi nuklir, masih ada beberapa persoalan yang perlu dibahas soal pengembangan energi ini, di antaranya sistem keamanan, penanganan limbah radioaktif, serta kesepakatan nonproliferasi nuklir untuk persenjataan. Kecelakaan Chernobyl pada 1986 lalu merupakan lembaran hitam pengembangan energi nuklir dunia.

Kecelakaan ini disebabkan desain reaktor yang tidak optimal dan mismanajemen dalam upaya menjaga keselamatan. Sejak saat itu, IAEA terus mengembangkan standar keselamatan dalam setiap aktivitas pengembangan energi nuklir. Selama bertahun-tahun, IAEA telah membahas cara meminimalisasi risiko keselamatan.

Contohnya di negara rawan gempa seperti Indonesia, IAEA akan memberi dukungan dan bantuan pembangunan fasilitas nuklir dengan mempertimbangkan faktor geologinya. Selain itu, kebijakan pemerintahan setiap negara pengembang energi nuklir harus memberi pengawasan dan pengamanan ketat terhadap instalasi nuklirnya. Hal ini disebabkan semakin maraknya aksi teror dari kelompok-kelompok ekstrem.

Kemudian, manajemen pembuangan limbah radioaktif tingkat tinggi masih tetap menjadi tantangan pengembangan energi nuklir hingga saat ini. Meskipun ilmuwan telah menjamin keamanan pembuangan ke dalam perut bumi, opini publik belum dapat menerima jalan keluar ini. Sementara itu, para ahli akhir-akhir ini berencana mengembangkan pembuangan limbah ke tempat penyimpanan sementara di permukaan bumi.

Nonproliferasi Nuklir

Bersamaan dengan harapan besar dunia terhadap energi nuklir, kita juga dihadapkan pada kenyataan pengembangan persenjataan nuklir. Uji coba senjata nuklir yang baru-baru ini dilakukan Korea Utara serta program pengayaan uranium Iran menjadi perhatian internasional. Sangat penting bagi seluruh pihak untuk kembali menegaskan komitmennya terhadap Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT).

Traktat ini berdasarkan pada dua pilar: nonproliferasi dan pelucutan senjata. Komitmen ini berlaku bagi negara yang belum memiliki senjata nuklir untuk tidak mengembangkan senjata ini. Juga bagi negara yang telah memiliki senjata nuklir untuk melucuti senjata nuklirnya. Kenyataannya, pelucutan senjata nuklir berjalan lambat. Sekarang ini, terdapat 27 ribu hulu ledak nuklir di dunia. Ini disebabkan perlombaan kepemilikan senjata nuklir.

Jika sebuah negara berhasil mengembangkan senjata nuklir, hal ini akan diikuti negara-negara lainnya. Di sinilah salah satu peran penting IAEA. Berdasarkan kesepakatan NPT, IAEA berhak memeriksa dan membuktikan suatu negara hanya akan mengembangkan nuklir untuk kepentingan damai. Namun dengan semakin berkembangnya negara-negara industri, membatasi penyebaran teknologi nuklir semakin tidak mudah.

Masa depan energi nuklir pasti dipengaruhi inovasi teknologi pendukungnya. Diharapkan, proyek penelitian dan pengembangan teknologi nuklir berfokus pada peningkatan keamanan, mengurangi risiko proliferasi, meminimalisasi limbah radioaktif, dan meningkatkan kinerja perekonomian. IAEA sadar kebutuhan pemenuhan pasokan energi cukup berkaitan langsung dengan pembangunan serta keamanan nasional dan internasional. Maka, masalah energi tetap akan menjadi wacana yang terus berkembang di masa yang akan datang.

Disampaikan dalam seminar Nuclear Power dan Challenging Word di Gedung BPPT, Jakarta, 8 Desember 2006.

Source:Seputarindonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: