INDUSTRI PULP & KERTAS JUGA PENGHASIL BIOENERGY

Terus melonjaknya harga minyak telah merangsang upaya upaya

untuk mencari energi alternatif, yang paling populer saat ini

ialah bioenergy (BE). Industri pulp dan kertas selain menghasilkan

produk pulp dan kertas, juga sebagai penghasil sekaligus pemakai

bioenergy. Penggunaan BE untuk industri pulp dan kertas akan menekan

biaya produksi, tetapi juga membawa konsekuensi-konsekuensi

tertentu. Demikian, Ir.H.M. Mansur, Ketua Presidium APKI (Asosiasi

Pulp dan Kertas Indonesia) mengatakan kepada Business News.

Industri pulp dan kertas dan BE merupakan pesaing satu

sama lain, karena sama-sama menggunakan kayu dan juga kertas

bekas sebagai bahan bakunya. Uni Eropa dan Amerika Utara sama-sama

bersemangatnya untuk memproduksi BE. Uni Eropa merencanakan

produksi BE dari kayu naik dari 55 juta toe (tonnes oil equivalent) pada

tahun 2004, menjadi 100 juta toe pada tahun 2010. Rencana ini

cukup ambisius, yang menunjukkan bahwa Uni Eropa siap untuk

melakukan investasi besar. Persaingan antara industri pulp dan kertas

dengan BE sangat bergantung pada kebijaksanaan masing-masing

pemerintah, seperti akan memberikan subsidi dan keringanan pajak

pada produksi BE. Dengan subsidi dan keringanan pajak tersebut,

produsen BE mampu membeli kayu dengan harga yang lebih tinggi

daripada yang dibeli pabrik-pabrik pulp, yang berarti akan ada kenaikan

harga kayu bagi pabrik-pabrik pulp. Hal yang sama akan terjadi pada

kertas-bekas.

Saat ini satu-satunya cara yang secara komersial dapat

dilakukan untuk mengubah kayu menjadi energi ialah dengan

membakarnya sebagai fuel padat. Pabrik-pabrik pulp juga

mengetropkan kogenerasi listrik untuk produksi BE, disamping

penggunaan unit-unit CHP (Combined Heat and Power) yang

menggunakan fuel kayu.

Kayu dipakai sebagai fuel kayu padat, harus diubah

bentuknya menjadi pellet kayu (campuran serbuk gergajian, kulit kayu

dan chip, yang dikeringkan dan di-pres menjadi pellet berdiameter 6-

8 mm). Amerika Utara belum memakai pellet kayu, tetapi pemakaian

pelfet kayu di Eropa sudah sangat maju mencapai skala industri.

Swedia merupakan negara terkemuka dalam pembuatan dan

penggunaan pellet kayu. Dalam tahun 2005 Swedia mengonsumsi 1,5

juta ton pellet kayu. Pellet kayu diproduksi di negara-negara yang

mempunyai cukup hutan, seperti Finlandia, Swedia, dan Latvia. Pada

waktu ini terdapat 235 pabrik pellet kayu dengan jumlah kapasitas 1,2

juta ton/tahun. Karena pemakaian pellet kayu di Eropa jauh lebih

besar, maka Eropa harus mengimpor pellet kayu, terutama dari Kanada.

Kanada mempunyai potensi untuk memasok energi kayu ke

Eropa dan seluruh dunia. Turunnya produksi pulp menyebabkan surplus

kayu di Kanada. Apalagi Kanada harus melakukan penebangan

besar-besaran atas areal hutannya yang diserang hama “mountain

pine beetle”. Naiknya harga minyak telah membuat Kanada, terutama

British Columbia (BC), menjadi sumber energi yang penting. Pada tahun

2005 Kanada menghasilkan 900.000 ton pellet kayu. Produksi pellet

kayu tahun 2006 akan mencapai 1,2 juta ton, yang 700.000 ton

(60%) diproduksi di BC.

Persaingan pembelian kayu antara industri pulp dan kertas

dengan industri BE akan semakin keras. Oleh karena itu timbul strategi

di industri pulp dan kertas untuk memanfaatkan biofuel.

Untuk mengambil energi dari kayu harus dilakukan konversi

menjadi etanol atau biodiesel (biofuel). Permintaan biofuel meningkat

dengan cepat. Uni Eropa memperkirakan pemakaian biofuel mencapai

18 juta toe pada tahun 2010.

Beberapa pabrik pulp telah memproduksi etanol, meskipun

belum dari kayu. Pabrik-pabrik pulp di Eropa membuat etanol dari gula

atau beet, identik dengan yang dilakukan di Brazil (dari tebu) dan

Amerika Utara (dari jagung).

Untuk masa depan, sedang diusahakan membuat etanol

langsung dari lignocellulose pada kayu, atau dari bahan-bahan

selulosa lainnya seperti jerami, biomass lainnya dan kertas bekas.

Generasi kedua pabrik-pabrik bioethanol akan lebih efisien dibanding

dengan produksi etanol dari hasil pertanian. Teknologi ini memperbesar

prospek pabrik pulp untuk menjadi “bio-refinery” yang sebenarnya,

yaitu memproduksi “cellulosic ethanol”. Teknologi “cellulosic ethanol”

masih dalam tahap eksperimen, tetapi sudah pada tingkat yang

sangat lanjut, dengan eksperimen-eksperimen terhadap katalis, enzim

dan mikro organik.

Banyak hambatan yang dihadapi dalam pengembangan BE,

baik teknologi, ekonomi dan politik. Namun harga minyak yang terus

naik tanpa ada tanda-tanda penurunan, maka pemakaian BE merupakan

solusi yang tepat dalam penggunaan energi alternatif. Dalam hal

ini industri kehutanan pada umumnya, dan industri pulp dan kertas

pada khususnya, dapat menjadi sentra dan pemain utama dalam

revolusi bioenergy. (Dm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: