Enzim Termostabil

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Istilah termostabil (stabil panas) dapat didefinisikan dalam sejumlah arti dan bersifat relatif. Sebagian besar lumpur-panas-sumber-bakteri-termostabil1definisi dari termostabil dihubungkan dengan sifat alami dari enzim dan sumber penghasil enzim. Ada yang mendefinisikan enzim termostabil sebagai enzim yang memiliki suhu aktivitas maksimum diatas suhu pertumbuhan organisme penghasilnya. Namun definisi ini tidak berlaku jika dilihat dari kenyataan ada enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang hidup pada suhu 90oC, tetapi mempunyai suhu aktivitas optimum di bawah atau di atas suhu pertumbuhannya.

Definisi lain dari enzim termostabil adalah berhubungan dengan aktivitas enzim yang masih terukur setelah enzim diinkubasi pada suhu 60oC atau lebih selama waktu tertentu. Definisi tersebut ternyata dapat berlaku untuk enzim yang bersifat termotoleran yang masih memiliki aktivitas enzim setelah pemanasan dan terukur pada kondisi suhu mesofilik.

Kestabilan enzim biasanya diukur berdasarkan waktu paruh aktivitas enzim. Waktu paruh adalah waktu reaksi aktivitas enzim yang turun hingga separuh aktivitas semula pada kondisi suhu tertentu. Nilai waktu paruh masih suatu ukuran yang relatif. Namun pada umumnya enzim termostabil sejati memiliki waktu paruh pada suhu 50oC yang jauh lebih lama dibanding enzim termolabil (tidak tahan panas) (Ng dan Kenealy, 1986).

Enzim termostabil memiliki beberapa nilai ekonomis antara lain :

  1. Stabil selama penyimpanan yang akan mengurangi biaya produksi.
  2. Reaksi berlangsung pada suhu tinggi sehingga akan mengurangi kontaminasi oleh bakteri mesofilik.
  3. Lebih tahan terhadap pelarut, detergen, dan senyawa denaturan.
  4. Pada suhu tinggi proses fermentasi akan lebih cepat, karena reaksi enzim akan meningkat dan,
  5. Pemisahan produk yang mudah menguap akan lebih cepat (Steel dan Walker, 1991)

Sifat stabil panas suatu protein ditentukan struktur intrinsik protein antara lain :

a) Memiliki ikatan disulfida.

b) Jumlah elektrostatik permukaan protein jembatan garam lebih banyak

c) Struktur protein yang lebih kompak dengan adanya interaksi hidrofobik dan ikatan hidrogen dan,

d) Mengandung kation divalen atau monovalen yang menjaga kestabilan konformasi protein (Mubarik, 2001).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: