sepucuk cinta Sul

Sul Silawati, dara kelas 6 SD di tempatku mengajar dulu di Teluk Aur, ia anak yang Pemalu, lugu,dan lembut. Sul, begitu orang biasa memanggilnya, terkenal rajin dan ramah. Ia biasa memotong getah di pagi-pagi buta, membantu pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. Aku bangga pernah menjadi homeroom teachernya saat ia duduk di kelas 5. Sul tidak pernah absen dan selalu memperhatikan pelajaran.

Sul, sering datang menemani saat aku “lembur” di kantor. Ia hanya duduk diam dan memperhatikan tanpa berani mengganggu. Sul baru akan bicara ketika aku sudah bertanya terlebih dahulu. Aku ingat, saat merasa lelah, Sul akan menggenggam tanganku dan berkata ” ibu istirahat saja ya”, sambil tersenyum padaku. Sul tidak pernah bosan menemaniku.

Sul akan rutin mengirim SMS ketika aku ada kegiatan di Putussibau. Ia akan terus bertanya “bila ibu pulang?”. Ibunya pernah cerita kepadaku bahwa Sul selalu terlihat sedih saat aku absen mengajar. kami ada kegiatan rutin setiap pagi di kelas, menulis buku harian. aku sengaja menyuruh mereka menulis setiap pagi dengan memfasilitasi  buku tulis yang disulap menjadi buku harian masing-masing. hasilnya sangat memuaskan, imajinasi mereka bertambah dan kemampuan menulis mereka pun meningkat. Rutin, setiap pagi kami menulis cerita  yang berbeda. setiap hari pula, aku membaca setiap cerita mereka, lucu, unik, dan miris. Aku ingat setiap cerita Sul, selalu penuh dengan energi positif. Di saat teman-temannya menulis tentang kejadian sehari-hari, maka ia akan sibuk menulis mimpinya di atas kertas, di akhir cerita ia menulis “aku ingin seperti ibu Belqis”.

saat menyedihkan, ketika aku harus pergi dari teluk aur. Sul bermalam di rumahku dan ikut mengantar keesokan paginya. Ia tak sanggup berkata apa-apa, tangisnya pecah. selang 10 menit berlalu, baru ia meneleponku sambil menangis. Sul, ketulusan hatinya menggetarkan sanubariku.

Sul berhasil menjadi delegasi KOnferensi Anak Bobo tahun 2012 ini. Untuk pertama kalinya ia akan menginjakkan kaki di ibukota Jakarta. Hal yang “hampir” tidak mungkin untuk anak-anak yang hidup di tengah keterbatasan. Mungkin, Ia adalah satu-satunya wakil dari Kapuas HUlu. Sul, dengan semangat tulusnya, mampu menginpirasi teman-temannya menjadi lebih baik lagi. Sul telah membuktikan, bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mencapai tujuan.

Cinta Sul padaku tidak bertepuk sebelah tangan.

NB: Untuk Sul yang mencintaiku dan akan selalu kucinta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: