setetes kejujuran

setujukah jika makhluk NYa yang paling jujur adalah anak-anak? ya, anak-anak terlahir fitrah tanpa cela, jika kelak mereka berubah perangai maka yang paling bertanggung jawab adalah orang-orang dewasa di sekitarnya.

 

aku mengamati sebuah perilaku ketidakjujuran yang dilakukan oleh seorang anak. mungkin hanya kebohongan kecil yang secara sengaja atau tidak sengaja telah terjadi. namun ternyata “yang kecil” itu menjadi besar tanpa disadari oleh si pembuat kebohongan. tanpa sengaja aku mengetahui bahwa dia (anak kecil) berbuat bohong. kaget? ya… bagaimana mungkin seorang anak kecil melakukan kebohongan yang (menurutku) berpotensi menjadi besar dan akan membawa dampak luar biasa.

anak-anak masih polos dan mudah sekali digali informasi tentang dirinya. mereka dengan mudah menceritakan sesuatu tanpa curiga. memanfaatkan peluang itu aku mencoba mencari “akar” kebohongannya. seperti yang aku duga kebohongannya dilatarbelakangi oleh kepentingan orang dewasa, yang menginginkan sebuah “nama” tanpa mengetahui medan apa yang akan ia tempuh. memanfaatkan anak-anak sangat tidak dibenarkan. alangkah tidak sopannya manusia dewasa itu?

pernahkah orang dewasa itu berpikir, bagaimana perasaan anak-anak ketika mereka berkutat dengan rekayasa dan kebohongan “kecil” itu? bagaimana anak-anak akan menghadapi lingkungannya kelak? anak-anak menjadi tertekan, jelas itu. bingung harus menutupi kebohongan kecilnya dengan kebohongan yang lain, gali lobang tutup lobang. kebohongan kecil itu menjelma menjadi kebohongan yang besar dan bahkan efeknya tidak pernah terpikirkan sebelumnya. ia menjadi malu karena kebohongannya, ia rendah diri dan bahkan untuk memaafkan dirinya saja ia tak mampu.

kebohongan yang berdiri di atas ego manusia dewasa, yang ingin menjadikannya sebuah “prestasi” semu atas sebuah kompetisi semu (pula) telah memakan jiwa murni seorang anak. pikirkan lagi resiko ketika memutuskan akan berbohong. lagipula, negeri ini sudah penuh dengan banyak kebohongan, akankah ditambah lagi dengan sebuah kebohongan yang datang dari seorang anak lugu dan tidak berdaya?

setetes kejujuran tidak datang dari orang yang memikirkan kompetisi tetapi ia datang dari jiwa yang terpanggil oleh ketulusan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: