Saat lanjut usia

# Terinspirasi  sebuah iklan layanan masyarakat, tentang hubungan anak-orang tua yang tidak harmonis lagi. orang tua yang Lumpuh, kehilangan pendengaran, pelupa, dan banyak lagi masalah yang ia perbuat, menguji kesabaran si anak. semoga kita segera menyadari bahwa tanpa orang tua kita bukanlah apa-apa.

Puji syukur alhamdulillah, saat ini orang tuaku masih sehat wal afiat. Abi ummi emang udah tua, tetapi masih kuat jalan, bahkan lari, dan tenaganya ga kalah sama yang muda-muda. Aku belum bisa bayangkan seperti apa abi ummi nanti saat mereka bertambah tua, lagi………, lagi….., dan lagi… Saat usia merenggut semua kejayaan masa mudanya.

jujur, Aku tidak takut mereka akan menjadi seperti apa, itu semua terjadi dengan sendirinya, toh kami juga ga’ mampu mencegah. Aku cuma takut ketika mereka sudah sangat tua nanti, aku tetap ga’ bisa berbuat banyak, sekedar menyenangkan hati, melayani, dan berbakti.  Mampukah aku tetap setia dan sabar pada mereka seperti yang pernah mereka lakukan padaku?

Aku ingat saat-saat di kalimantan, saat masa tugasku sebagai pengajar muda sedang berjalan. Inik (nenek) angkatku sakit dan dirawat di puskesmas setempat. Aku, sepupu (angkat), dan adik (angkat) perempuanku merawatnya bersama-sama. Saat itu adalah saat sulit karena puskesmas kami tidak memiliki seorang dokter pun dan minim perawat. Saat itu aku melihat adikku dengan sabar dan cekatan merawat inik. Ia menyiapkan segala keperluan Inik, mulai dari makan, minum, obat, memandikan, memakaikan baju, bahkan mendandaninya agar terlihat segar. Kami menggendong Inik bersama-sama saat hendak memandikannya. Memakaikan baju, menyisiri rambutnya, dan bergantian menyuapinya. Bagiku itu semua adalah hal yang sangat luar biasa. Khayalanku melayang, membumbung tinggi sampai ke tanah jawa. Aku teringat Abi dan Ummi, kemudian membayangkan masa-masa senja mereka. Pasti, suatu saat nanti, aku akan menghadapi peristiwa yang serupa. Peristiwa yang tidak bisa dielakkan lagi.  Keinginanku hanya satu, sanggup melayani mereka di hari tuanya dengan senyum tetap terukir di wajahku.

Abi ummi, bagaimana nanti? Aku ragu sama kemampuanku. aku sangat tidak PD menghadapi semua itu. inget deh, berapa kali aku bikin abi ummi kecewa, kita berantem, dan bahkan aku ga’ mampu penuhi mimpi kalian. sampai sekarang pun, aku masih dibayang-bayangi perasaan bersalah, dan apa jadinya jika kelak aku tidak bisa memberi pelayanan terbaik untuk kalian? Abi ummi, aku takut? Takut ga’ bisa jadi yang terbaik.

banyak hal yang aku pikirkan kemudian. aku pun, kelak, tidak ingin diperlakukan secara buruk oleh anak-anakku. betapa aku ingin menjadi yang terbaik untuk mereka, yang mampu merawat mereka dengan sebaik-baiknya, menjadi pelita bahkan di keadaan yang gelap gulita. abi ummi…. hanya ridho mu yang bisa membawaku ke sana, doa tulus yang kau panjatkan akan setia menjadi penuntun kami agar tak salah melangkah.

1 Comment (+add yours?)

  1. hidden
    Nov 30, 2012 @ 14:25:26

    tulisan yang sederhana tapi sangat menyentuh….. ^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: