opini tentang kurikulum (catatan “mantan” guru SD)

kurikulum…  a new stuff that i heard in my previous year, heheheheeee….. Awalnya sangat g ngerti dengan yang namanya kurikulum, mulai dari kurikulum CBSA, kurikulum berbasis kompetensi, sampai yang terakhir kurikulum KTSP (KaTeSiaPe???) ditambah lagi hot issue akan ada perubahan kurikulum lagi di Indonesia. sek sek sek….. kok dengan mudah kurikulum itu bisa berubah? sebenarnya, tujuan perubahan kurikulum itu apa sih? so many questions that always linger on my mind. based on my (own) experience, perubahan kurikulum hanya bisa diterapkan di sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas dan SDM yang baik. ya, karena keberhasilan kurikulum ditentukan oleh kerja sama tim, sekolah dan siwa, secara holistik, tidak bisa dipisahkan. seperti contoh, ketika saya masih SMA, kurikulum yang digunakan pada masa itu adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK). beberapa buku diktat menggunakan 2 bahasa (bilingual) dan jangan salah, SMA saya adalah SMA favorit se-jombang dengan kualitas input siswanya tidak diragukan lagi (sombong dikit). tapi ternyata, kurikulum KBK pun dinilai kurang berhasil diterapkan di sekolah karena hanya sebagian guru yang menguasai bahasa inggris dan metode mengajar mereka masih satu arah, masih tempo doeloe. ditambah lagi terjadi kasus di beberapa daerah, mereka menilai kurikulum ini hanya bisa diterapkan di Jawa yang “semua ada” dan tidak bisa diterapkan di daerah yang lain. jadilah, kurikulum KBK diganti lagi dengan KTSP. KTSP dinilai sangat sesuai ditempatkan di mana saja karena kontennya dibuat sendiri oleh tim KKG di masing-masing daerah, pemerintah hanya memberikan panduan tentang SK-KD nya saja. Tetapiii… pada akhirnya kurikulum ini dinilai tidak berhasil juga.

sedikit opini yang ingin aku share tentang perubahan-perubahan kurikulum itu. pertama, IMHO kalopun kurikulum harus berubah, maka seharusnya beban siswa menjadi semakin berkurang. Aku ingat ketika masih SMA, ke sekolah dengan tas ransel ala astronot, dan masih membawa tas tenteng yang isinya buku-buku diktat karena jumlah mata pelajaran yang mencapai 12 jam pelajaran/hari. tiap pulang kecapekan karena masih ada ekstrakurikuler, les, de el el. Aku juga ingat ketika kena remidi sejarah kelas 1 SMA, tentang manusia purba, aku bingung, kenapa harus ada judul manusia purba? ciri-ciri manusia purba? (nenek moyangku bukan pithecanthropus erectus😦 ) karena sampai sekarang topik itu tidak pernah di bahas lagi. seperti juga sebuah indikator mata pelajaran PKN kelas 4 SD yang berbunyi “Menjabarkan lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan pusat seperti MPR, DPR, DPD, presiden, MA, MK, Komisi Yudisial, dan kejaksaan  “ yang sangat sulit dicerna anak-anak ketika kucoba terapkan di SD tempatku mengajar.

kedua, hendaknya perubahan kurikulum dibarengi dengan peningkatan kualitas guru dan fasilitas mengajar. kalau kita lihat, perubahan kurikulum sudah sering dilakukan namun tidak disertai dengan peningkatan kualitas guru, baik dari metode mengajar, kemampuan bahasa, dan kreativitas mereka. Hasilnya, walaupun kurikulum berubah seribu kali, buku diktat ratusan banyaknya, namun pengetahuan yang ditransfer pun sama saja dari jaman baheula.  Hal yang sama juga bergantung pada keberadaan fasilitas mengajar. menurutku, fasilitas mengajar jangan hanya diorientasikan untuk pembangunan fisik sekolah saja, buku adalah yang utama, ensiklopedia, kamus, majalah, juga berbagai buku pengayaan, syukur-syukur kalau sekolah bersedia memberi akses untuk belajar langsung ke sasaran (praktek), misal dengan mengajak anak-anak langsung turun ke pasar untuk mempraktekkan prinsip ekonomi, mengajak mereka membuat project sains tentang ekosistem, de el el. it will be interesting and stay longer because they learn directly.

ketiga, perubahan kurikulum hendaknya bersifat global dan berjiwa Indonesia. Artinya perubahan kurikulum harus mempersiapkan anak-anak menghadapi tantangan di masa depan, baik dari segi bahasa (terutama), hot issues tentang perkembangan dunia, pengayaan skill, de el el. kalau perlu anak-anak diwajibkan menguasai 3 bahasa asing ketika mereka duduk di bangku SMA.  semua itu untuk  mempersiapkan mereka menghadapi tantangan-tantangan di masa depan. sedangkan berjiwa Indonesia artinya, kurikulum yang ada tidak menghilangkan karakter ke-Indonesiaan kita terutama dari unsur budaya. Jadi bahasa daerah tetap diperlukan, tari-tarian, dan nyanyian daerah juga. karena itu adalah karakter bangsa kita. Biar ga jadi kacang yang lupa kulitnya.

so, setelah bercakap panjang lebar mengenai kurikulum, bagaimana selanjutnya tindakan “ancang-ancang” kita sebagai (calon) orang tua? menurutku, orang tua perlu memperhatikan kualitas sekolah terlebih dahulu sebelum mempercayakan anaknya untuk belajar di sana. sekolah yang baik tidak dilihat dari akreditasinya, kemegahan gedungnya, tetapi dari seberapa seringnya sekolah tersebut mengadakan pelatihan guru. Karena keberhasilan sekolah bukan dinilai dari tingginya nilai UAS yang bisa diraih oleh siswanya tetapi dari sejauh apa mereka mampu memfasilitasi dan menciptakan progress/impact yang tinggi selama siswa belajar di sana. Dan harap tidak melupakan satu hal bahwa sekolah yang baik menerapkan pendidikan yang berbasis moral (akhlak), itu tercermin dari behaviour dan kinerja guru-gurunya🙂

kutipan bu weilin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: