A.B.I

IMG_0026JIka ada yang bertanya, siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidupku? maka dengan bangga aku menjawab : ABI.

Kalau dirasa lagi, sebenarnya hubungan antara aku dan Abi tidak begitu akur. Dari dulu Kami sering berbeda pendapat, berantem malahan. Kami berdua sama-sama keras kepala, sama-sama susah disuruh mengalah. Tetapi semakin kami berdua bertengkar, semakin kami menyadari banyaknya kemiripan di antara kami. Kata orang, sifatku banyak yang diturunkan dari beliau. Didikan Abi yang “militer”, detil dan kritis terhadap setiap kejadian, terkesan “angker” dan “horor” bagi orang kebanyakan. Gak umum mungkin, atau malah aneh. Abi pun terkesan otoriter bin sakkarepe dewe karena setiap penolakannya tidak disertai alasan yang jelas, aku harus benar-benar peka dan berusaha memahami apa maksud beliau. Kadang tidak masuk akal sehingga aku tidak bisa menerimanya, but finally, everything he said became true, he sees beyond our mind. 

Abi adalah orang paling visioner yang pernah aku temui. Perencanaan beliau tentang masa depan anak-anaknya dimulai sejak kami lahir. Abi disiplin banget masalah pendidikan. Dukungan penuh darinya agar kami semangat menuntut ilmu setinggi-tingginya. Kadang aku berpikir bahwa sikap kerasnya adalah bagian dari pelampiasan masa lalunya yang tidak sempat mengenyam pendidikan dengan baik. Dulu, abi akan sangat marah kalau kami bolos sekolah. Tidak sekali dua kali kami “kejar-kejaran” gara-gara aku malas berangkat sekolah sore. Tetapi abi bisa sangat memanjakanku ketika aku meraih prestasi di sekolah. Kalau dipikir lagi, jika Abi tidak seperti itu dulunya, apa jadinya kami sekarang? Aku tidak pernah mendengar abi memujiku secara langsung, sekedar bilang aku cantik atau pintar, boro – borooo deh. Justru ketika aku bersamanya, abi akan dengan sangat senang mengolok-olok dan menjatuhkan mentalku. Tetapi, dari orang lain aku pun tahu, bahwa Abi selalu tersenyum bangga menceritakan anak-anaknya.

Abiku kini beranjak tua, namun semangat untuk mengayomi anak-anaknya tetap terukir di wajahnya. Aku memang belum merasakan seperti apa rasanya menjadi orang tua. Bahkan ketika aku sudah merasa mandiri, beliau masih senantiasa memikirkan kami. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah selalu berada di sisinya, merawatnya, dan memberikan  dedikasi terbaik untuknya. Aku bukan anak yang baik, apalagi terbaik, tetapi aku akan terus berusaha menjadi lebih baik. I am proud being his daughter.

::::…. “dan jauhkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka”…… pesan abi yang selalu kuingat, yang menjadi reminder agar kami tak salah melangkah…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: