Lembar Kerja Siswa Bikinanku.

•November 3, 2011 • Leave a Comment

inilah antisipasiku saat menyadari bahwa pengetahuan murid-muridku masih kurang dan minim literatur. banyak waktuku tersita untuk mengajar di kelas. pagi SD dan sore SMP. malamnya untuk kegiatan masyarakat. belum lagi aktivitas di kecamatan dan kabupaten yang membuatku meninggalkan mereka. aku pun memutar otak, mencari cara bagaimana agar aku tetap bisa memberi mereka perhatian? tanpa aku meninggalkan kegiatanku di kecamatan/kabupaten. aku pun lantas berpikir untuk membuat LKS (Lembar Kerja Siswa), agar mereka bisa berlatih mengerjakan soal-soal ketika di rumah. awalnya aku hanya membuat LKS untuk tugas belajar selama aku ada kegiatan. LKS itu berisi soal-soal untuk beberapa hari. hanya review dari materi-materi yang selama ini sudah aku ajarkan. LKS itu juga kubuat agar guru-guru yang lain tidak terbebani mengajar kelasku selama aku pergi.

hari itu hari jumat, dan aku berencana pergi mudik (ke Putussibau) pada hari Sabtu. LKS aku bagikan di kelas menjelang pulang sekolah. LKS berisi sekitar 30 halaman, 6 mata pelajaran, bahasa Indonesia, Sains, IPS, PPkn, Matematika, dan Bahasa Inggris. Masing-masing mata pelajaran ada sekitar 30 soal esai dan isian. setelah aku jelaskan singkat mereka pun lantas pulang sekolah. siangnya, entah kenapa aku tidak melihat anak-anak bersliweran di depan rumah. begitu pun ketika aku pergi ke lapangan bola dan lapangan voli, sepiii…..hingga hari beranjak sore, aku tidak bertemu dengan anak-anak muridku di tanah tempat mereka main guli (kelereng). ke mana ini???

aku sedang makan malam, bersama adik, bapak, dan Umak. ketika anak-anak berbondong-bondong datang dan menyerahkan hasil pekerjaan mereka. aku pun kaget, terhenyak. ternyata mereka bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat. tapi kemudian aku pun terdiam, bingung harus bagaimana???

bukan bintang Biasa

•November 3, 2011 • Leave a Comment


metode mengajar ini aku adopsi saat berkunjung di Sekolah Alam Cikeas. Metode yang mungkin terlihat sederhana tapi memberikan efek yang luar biasa pada anak-anak didikku.
Bintang itu dari kertas, yang kubuat sendiri. ukurannya pun tidak begitu besar. Diameternya sekitar 3 cm. ternyata mampu menarik minat anak-anak dan membuat mereka berlomba-lomba dalam belajar.
bintang penghargaan sederhana, yang kuberikan pada mereka yang memperoleh prestasi tersendiri. untuk yang istiqomah mengerjakan PR, untuk yang rajin menjaga kebersihan, dan untuk yang rajin bertanya dan menjawab pertanyaan.
bintang yang dikumpulkan dengan susah payah oleh mereka, selalu mereka pandangi saat berangkat dan pulang sekolah. mungkin sambil membayangkan, “kapan bintangku bisa bertambah lagi?” atau mungkin “kapan aku menjadi pengumpul bintang terbanyak di kelas ini?”
yah… apapun yang ada di pikiran mereka sekarang, semoga mengantarkannya meraih bintang harapan di langit.

==============================
huge spirits for u all…..my beloved students

Gadis Bernama Rika

•November 3, 2011 • Leave a Comment

Rika namanya. R-I-K-A. Tidak ada nama panjangnya lagi. Sederhana, sesederhana kehidupannya. Aku mengenalnya sejak pertama kali mengajar di kelas 5. dia sangat bersemangat di sekolah. sangat suka bertanya, dan selalu rajin mengerjakan tugas. namun di samping itu, tersimpan pula tabiat Rika yang pemarah, suka memukul temannya, dan berkata kasar. Rika sangat mudah tersinggung dan merajuk. tidak jarang ia berkelahi dengan temannya, saling memukul, menarik rambut, sampai menangis. hampir setiap hari aku harus mengingatkannya agar bisa sedikit bersabar…..sedikittt sajaa….tak jarang aku pun pusing saat anak-anak sudah berulah seperti itu, berkelahi setiap hari dan membuat onar. aku capek. Ingin rasanya aku terlepas sejenak dari rutinitas ini.
siang itu, aku menemukan sosok Rika yang lain. saat aku sedang bersantai di tepi sungai kapuas sambil membawa HPku. ya, di desa kami sinyal hanya ada di sekitar sungai kapuas, itu pun hanya pada titik-titik tertentu. saat aku sedang duduk sendirian, datanglah Rika, menyapaku riang dan mengajakku bercanda. Tak lama kemudian, aku mendengar suara ibunya memanggil dan ia pun segera pergi menghampiri suara itu. sejenak berlalu, aku melihat Rika memanggul Raga’ (Keranjang) dan duduk di sebelahku lagi. aku pun bertanya “mau ke mana Rika, siang-siang begini”
“mau ikut Umak, bu”
‘memangnya kalian mau ke mana?” tanyaku lagi
“kami mau mencari kayu api (kayu bakar) di hutan, boh bu! ” kata Rika lagi sambil tersenyum riang, Ia pun pergi meninggalkanku.
kulihat Rika dan Ibunya pergi bersama. masuk ke hutan Aur. ahhh….itu rupanya yang aku belum tahu dari sosok Rika. Tak ada keluhan yang keluar dari bibirnya saat ia berangkat mencari kayu bakar di tengah teriknya matahari khatulistiwa. Rika yang emosional, yang suka marah, tapi sangat patuh pada orang tuanya.
Rika, potret kehidupan anak-anak di desa kami. anak-anak yang tumbuh dengan emosional yang tinggi . kadang aku berpikir, bagaimana tidak adilnya kehidupan ini bagi mereka? memaksa berpikir dewasa dan turut bekerja. anak-anak selalu bangun jauh sebelum ayam berkokok, ikut menoreh getah, mencari ikan, mengurus segala urusan rumah sebelum akhirnya mereka pergi ke sekolah. bagaimana mungkin tanggung jawab keluarga harus ditanggung oleh jari-jari kecil itu?
menyadari semua itu, aku pun bangkit dari tempat dudukku dan pulang dengan senyuman. Yah, jika Rika saja mampu melewati semua hal yang begitu keras, maka aku pun sanggup melewati hari-hariku .anak-anakku yang over energi dan semangat, sambut kembali CikGu mu!

selamat hari raya idul Fitri 1432 H

•August 27, 2011 • Leave a Comment

Segenap keluarga besar Pengajar Muda untuk Kabupaten Kapuas Hulu mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan Batin

Merenda asa

•August 26, 2011 • Leave a Comment

Ada asa, cita-cita tinggi yang berusaha digapai, walaupun bukan anak-anak lagi.

======================================================================

Semangat yang tersirat, mungkin tidak seramai semangat anak-anak, tapi inilah penopang kemajuan pendidikan di desa kecil ini. Segelintir orang-orang tua, yang menganggap pendidikan bukan suatu hal untuk mendapatkan pangkat, gelar, atau harta. Namun pendidikan ada untuk membuat kehidupan mereka lebih berarti. Tidak malu walaupun usia tidak muda lagi, selalu mengambil kesempatan untuk belajar dan terus belajar.

Adalah bapak-bapak di desaku, yang tergabung dalam komunitas penyelamat hutan lindung Aur dan danau Aur. Mereka melindungi hutan, danau, bukan untuk diri mereka, tetapi untuk anak cucu mereka, dan kita semua . Mereka bergerak atas kesadaran diri, tanpa paksaan, tanpa harus disuruh, lillahita’ala.  Teori keseimbangan ekosistem, biodiversitas, yang mungkin mereka tidak tahu, apalagi hiruk pikuk di luar sana, di ibukota, yang tidak ada habisnya. Kadang mereka ditipu, oleh orang-orang yang memanfaatkan ketidaktahuan mereka. Namun, tak pernah kudengar caci maki dari mulut mereka.

Hmm….keikhlasan mereka, tiada henti. Kadang mereka datang kepadaku, menanyakan ini itu. Kadang ekspresi mereka pun lucu, seperti anak-anak di kelasku. Aku tersenyum geli. Bapak-bapak ini aktif dalam kegiatan sekolah, apapun yang bertujuan untuk memajukan pendidikan anak-anak, mereka akan selalu berperan.

Di antara bapak-bapak ini, ada bapakku. Bapakku pun begitu, tidak pernah berhenti mendukungku, mengusahakan kenyamanan selama aku tinggal di rumahnya. Senyum tulus yang terpancar dari wajah bapak, dan bapak-bapak yang lain, akan selalu teriring dalam semangatku, agar aku tidak merasa lelah, dan mengeluh. Aku berarti karena mereka menganggapku ada, dan aku akan terus berusaha.

SDN 06 Teluk AUR dan SMPN 04 SATAP Nanga Bunut (di sinilah aq bertugas)

•August 26, 2011 • Leave a Comment

18 juli 2011, resmi aku mengajar sebagai CikGu dan mengelola kelas. Atas keputusan kepala sekolah akhirnya aku menjadi guru kelas 5 (untuk semua bidang studi kecuali agama dan PJK). Karena ada SMP yang baru dibuka akhirnya aku pun diminta untuk menjadi guru bidang studi IPA terpadu dan bahasa Inggris untuk kelas 7.  Aku mengajar SD di pagi hari, mulai jam 7.15 – 11.50. Murid-murid SD kelas 5 berjumlah 21 anak, dengan karakter yang berbeda-beda, lucu-lucu. Variasi usia mereka pun antara 10-13 tahun. Pertama berdiri di depan kelas sangat berkesan karena ketika aku berkomunikasi dengan bahasa Indonesia maka mereka menjawab dengan bahasa daerah mereka (bahasa Melayu Hulu). Dooeenggg???? hihihi……..

Sambil berbicara aku mencoba menatap wajah mereka satu persatu. Kuperhatikan dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mereka menyunggingkan senyum lebar kepadaku, aku membalasnya dengan senyum riang. Kulihat beberapa di antara mereka berpakaian lusuh, kancing bajunya tak tahu entah ke mana, beberapa bahkan tidak beralas kaki, dan akhirnya kulihat sesosok makhluk kecil di ujung kelas, pelan-pelan kulihat anak kecil yang sedang memegang kerupuk, mungkin usianya baru 2 tahun,aahhh….rupa-rupanya ada juga yang ke sekolah sambil mengasuh adiknya karena tidak ada orang di rumah. Kulihat lagi barang bawaan mereka (tas), ternyata hampir separuhnya membawa barang lain selain tas, mereka membawa dagangan ke sekolah, ada setermos es lilin, krupuk ikan, kerupuk basah, bakwan, es kue dll.

Anak-anak kelas V, foto ini diambil setelah upacara bendera

 

Kulanjutkan obrolanku dengan pertanyaan-pertanyaan lucu. Antusiasme mereka cukup tinggi, mungkin karena aku orang baru, jadi rasa tertarik mereka sangat terlihat. Namun, jangan coba-coba untuk lari dari pesonaku, akan kubuat kalian tertarik padaku seumur hidupmu :D

Hal pertama yang aku lakukan di kelas cukup sharing pada hari pertama, berkenalan, cerita ini itu, dll. Dilanjutkan dengan games ringan sebagai assesment awal untuk mengenal karakter mereka. Hasilnya, Wow!!! Beberapa kali aku merasa kewalahan karena ulah anak yang hiperaktif dan cenderung cari perhatian. Beruntung aku masih mengingat materi manajemen kelas yang pernah diajarkan oleh I-Teach selama pelatihan, dengan menggunakan sinyal-sinyal sederhana akhirnya aku bisa segera menguasai kelas. Sebetulnya mereka memiliki tingkat kepatuhan yang cukup tinggi, karena sering kulihat anak-anak hampir tidak pernah membantah ketika disuruh orang tuanya ini itu. anak-anak yang luar biasa. Untuk selanjutnya aku masih melakukan assesment untuk materi-materi sekolah. Beberapa membuatku kagum terutama pada bakat kinestetik mereka, beberapa lagi membuatku tak mampu berkata apa-apa. Ada kejadian lucu saat aku melontarkan pertanyaan,

“di mana kalian tinggal??”

maka mereka menjawab “di teluk aur buuuuu”

kemudian kulanjutnya dengan pertanyaan “di propinsi manakah kalian tinggal??”

“…………………………..” hening

Aku masih belum yakin dengan jawaban itu, jadi kulanjutkan lagi dengan pertanyaan selanjutnya.

“di negara manakah kalian tinggal?”

“di Indonesia Bu….” alhamdulillah, gumamku dalam hati karena mereka tahu bahwa Indonesia adalah negara mereka.

“apa nama ibu Kota Indonesia?”

“………………………..” hening selama 2 menit. Kemudian ada yang menjawab

“Serawak buuuu………” aku terhenyak, namun beberapa anak yang lain mulai gaduh dan menyalahkan jawaban tadi. Ahh..rupa-rupanya anak-anak masih tahu bahwa Serawak bukanlah bagian dari Indonesia. Kucoba lagi dengan memberi pertanyaan terakhir.

“ayoo siapa yang tahu siapa nama presiden kita saat ini??”

“bapak SUHARTO buuuu…………” kompak anak-anak menjawab, dan aku hanya tertegun, tak mampu berkata apa-apa.

Ada kejadian lucu juga saat aku melatih mereka untuk upacara bendera ( Sekedar Info, di desa kami upacara bendera tidak pernah dilakukan selama lebih dari 10 tahun lamanya). Ketika itu aku mengajari mereka baris berbaris dan paduan suara. Untuk baris berbaris sudah cukup bagus, terlihat anak-anak bisa menjalankan tugas mereka masing-masing, namun ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya ada sedikit yang tidak beres menurutku. Ada nada-nada aneh yang terselip di antara lagu ciptaan WR. Supratman itu, semacam irama dangdut melayu, dan benar saja, ternyata ada unsur aransemen dengan irama lagu melayu “Bujang Rimbong”. Olaaalaaaaa……………….

Foto ini diambil saat anak-anak kelas V sedang melakukan games PPKN, menjodohkan nama propinsi dan nama ibukotanya.

 

Sore hari kulanjutkan dengan mengajar SMP mulai jam 13.00-17.00. SMP ini dinamakan SMP Satap (Satu aTAP) karena lokasinya satu kompleks dengan SD, kepala sekolahnya pun sama. SMP ini merupakan program bantuan dari pemerintah Australia, sehingga untuk segala pendanaan dan pengelolannya diawasi oleh pihak mereka. Sebelumnya tidak ada SMP di desa Teluk Aur. Anak-anak melanjutkan SMP di desa yang lain, biasanya di desa di kecamatan Bunut HIlir atau di desa Nanga Empangau. Karena letaknya jauh, untuk menempuh pendidikan di desa lain (di kecamatan misalnya) mereka harus kos (ikut tinggal bersama penduduk dan membantu tuan rumah) sehingga mereka tidak bisa membantu orang tua. Lagipula untuk biaya transportasi air (sampan maupun speed boat) dirasa cukup mahal (solar 9000/L, bensin 15.000/L).  SMP N SATAP 04 Nanga Bunut baru saja dibuka tahun ini, jadi hanya ada satu rombongan belajar untuk kelas 7 dengan kapasitas 30 kursi. Alhamdulillah, hingga saat ini sudah 29 kursi yang terisi, 7 laki-laki dan 22 perempuan. Kalau untuk murid SMP lebih variatif lagi usianya, antara 12-17 tahun. 17 di antaranya adalah fresh graduate, dan sisanya sempat berhenti sekolah karena alasan di atas. Namun secara pribadi aku bangga karena semangat belajar mereka cukup tinggi mengingat beberapa di antara mereka usianya sudah 17 tahun.

Ada beberapa kendala saat mengajar anak SMP dengan keadaan seperti itu. Di antaranya untuk recalling materi-materi yang sudah pernah diajarkan selama SD, kemudian untuk pengelolaan kelas karena mengingat usia mereka yang remaja tanggung (anak-anak bukan, remaja juga belum, hehehhe… ) kadang mereka suka membantah dan menawar-nawar (apalagi kalau sudah ada hubungannya dengan tugas dan PR). Beberapa di antara muridku malah teman bermainku di rumah, seperti Noy, jadi kalau di rumah mereka memanggil aku “kakak”, namun ketika di sekolah mereka memanggilku “CikGu”, hehehheeee….

Aku menjadi guru bidang studi IPA terpadu dan bahasa Inggris untuk kelas 7. Untuk materi IPA terpadu terkendala oleh minimnya pemahaman mereka tentang materi-materi yang sudah pernah diajarkan sebelumnya (saat SD) dan variasi soal. Setahuku anak-anak di sini terbiasa mengerjakan soal pilihan ganda dari buku paket yang (maaf) sudah kadaluarsa (buku paket yang beredar di SD sekarang menggunakan kurikulum 2004 dan beberapa lagi menggunakan kurikulum KBK), dan dalam cara pengerjaannya pun menggunakan metode menghitung kancing baju (#$%$@!?). Aku pikir tidak akan terlalu sulit untuk mengejar ketinggalan-ketinggalan itu karena anak-anak di sini cukup cerdas, terbukti ketika beberapa kali mereka dipandu dengan latihan soal mereka bisa mengerjakan. Menurutku mereka hanya kurang bimbingan dan kurang bahan bacaan. Lain lagi untuk materi Bahasa Inggris, kendalanya sangat terasa karena anak-anak tidak terbiasa dengan bahasa selain bahasa Hulu. Untuk berbicara dengan bahasa Indonesia saja masih kesulitan (padahal setiap malam mereka nonton sinetron NADA & CINTA) apalagi mendengar bahasa asing (ironis karena desa mereka rutin dikunjungi Bule). Untuk pelafalan mereka sudah sangat pandai melafalkan huruf “R” dalam ejaan bahasa Inggris, karena dalam kamus bahasa Hulu, pengucapan “R” diucapkan seperti “R” dalam bahasa Inggris. hwihihihi…..

 

.:Deployment

•July 5, 2011 • 1 Comment

15 Juni 2011 (Rabu). Kala itu, mentari masih jauhhhh tenggelam, belum saatnya ia muncul dan bangkit menyinari dunia. Kami semua mengantuk, karena semalam nyaris tak bisa tidur. 3.00 a.m, di lobby penginapan, teman-teman mulai datang satu per satu plus barang bawaan mereka. Pagi ini ada 4 tim yang akan berangkat, tim aceh utara, kapuas hulu, sangihe, dan rote ndao. Perpisahan yang mengharukan, lagi..dan lagi. 4.30 a.m, bis kami sampai di bandara Soekarno – Hatta. Tim Kapuas Hulu mendapat kehormatan untuk berangkat duluan, disusul Aceh Utara, dan dilanjutkan oleh tim Sangihe dan RoteNdao. Hmmm ….life is adventure, petualangan pun dimulai saat pesawat mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Baru kali ini menginjakkan kaki di pulau lain (selain JAWA), ada rasa tersendiri buatku. Setelah mas Ade (seksi sibuk kapuas Hulu, wkwkwkkw..:D) pontang-panting mencari mobil sewaan untuk mengangkut kami + “rumah kami” (karena barang bawaan kami bejibun banyaknya) kami pun siap berpetualang. 18 Jam perjalanan panjang untuk trayek Pontianak – Putussibau melewati Sekadau – Sintang, perbandingan jarak yang ekuivalen dengan Surabaya – Jakarta, bedanya kalau rute Surabaya – jakarta menggunakan jalan beraspal yang sesekali diselingi macet, nah kalo yang ini, jalanan asli lancar tanpa macet (mobil bisa melaju 100km/jam), namun berombak laksana di lautan. Lucunya, walopun mobil kami bergoyang (dan nyaris guling-guling) seperti apa pun, tapi kami tetap asyik tertidur dengan pulasnya. Masih ngantuk berat kali yaa…. Beberapa kali dalam perjalanan kami berhenti untuk makan, sholat, dan melepas penat. Sama sekali tak terbayangkan akan berada jauhhhh dari orang tua. Pertama kali dalam hidupku, memulai petualangan baru, dengan keluarga baru, Bismillahirrohmanirrohim….

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.